Puisi-puisi Para Juara Event Perdana KOPIP
Juara 1
WANGINYAA KERINDUAN
Karya: Drs. Slamet Suryadi
Desah angin malam menyeruak
Menerobos dinding kamar yang retak
Hawa dingin menitiskan resah
Menggetarkan nada-nada kebisuan malam
Gelap malam membombardir rasa rindu
Bayanganmu menelisik mengusik sepi
Menyusuri kelam menidurkan rembulan
Menyemai hening di bingkai malam
Kukayuh rasa rindu ini
Agar terdampar di hatimu
Bersama syair puisi yang kutuliskan
Pada cakrawala di bingkai malam
Dii keheningan malam ini
Kuselipkan kerinduanku
Di setiap kuncup seribu puspa
Berharap kau terbangun esok hari
Mencium wangi semerbak kerinduanku
Indramayuu, 25 Januari 2021
Biodatata Penulis:
Slamett Suryadi terlahir 58 tahun yang lalu di Indramayu Jawa Barat. Sejak SD hingga sekarang menyukai puisi. Profesi saat ini sebagai PNS/ASN sebagai Guru IPA di SMPN 1 KARANGAMPEL. Sejak kuliah di UNPAS Bandung tahun 1982 aktif di sanggar Olah Seni Ligar Sari Bandung dan nimbrung di Grup Apresiasi Sastra (GAS). Karya-karyanya berupa puisi dimuat di Komunitas Penulis Sastra Indonesia (KOPSI) dan pernah menjadi juara di event penulisan puisi nasional
Alamat penulis : Perum Margalaksana Indah Jl. Gunung merapi No.23 Rt.06/08
Kel. Margadadi Kec. Indramayu Jabar 45211
No kontak WA : 08122301265
Email : Slamat.suryadi56@gmail.com
Juara 2
BOCAHH PENYERPIH DUKA
by : Restu Gusti
Lelaki setia, kini menjelma bocah yang menyerpih duka
dan pada lingkar matanya dipadati hampa.
Sunyi yang tak tega berusaha menghiburnya,
berlenggak lenggok di bawah pohon liu—menari
yang diiringi indahnya tabuhan lokananta
sembari menyenandungkan syair-syair elegi.
Dan bagai sebuah kutukan abadi,
tiap kali hujan turun mempurifikasi sekujur tubuh sepi
rindu kerap kali mengintervensi,
berancang-ancang menjerat tubuh si bocah yang ringkih.
Bocah itu akhirnya memutuskan memejamkan mata,
mengambil jeda sembari memindai mimpi
merogoh jantungnya sendiri—ini bukan rekayasa,
kemudian menutup lembaran kenangan purba
sembari melantunkan Al Fatihah.
Malang, 30 Januari 2021
Biodatata Penulis:
Restu Gusti atau akrabnya kini dipanggil R.Gusti, lahir di Malang, 01 Maret 1992. Ia
merupakan anak pertama dari dua bersaudara dan kini tengah sibuk membantu bisnis
keluarganya.
Menulis (puisi) menjadi hobi terbaru R.Gusti yang sekaligus juga menjadi terapi bagi dirinya.
Genre puisi yang ia usung atau ia sukai adalah surealis, roman, dan terkadang sufisme.
Penulis/penyair favoritnya adalah Chairil Anwar, W.S Rendra, Pablo Neruda, Afrizal Malna,
Theoresia Rumthe, dll.
Tentang puisi di atas, menceritakan bagaimana tekanan batin yang penulis alami karena
beberapa kali diluluh lantakkan karena cinta atau problematika yang lainnya, namun itu
takkan mampu melumpuhkan dirinya karena semua kenangan telah ditutup dengan Al
Fatihah, juga sekaligus sebagai awal membuka lembaran baru yang lebih baik lagi.
Saat ini, penulis aktif menulis di sosial media.
Pembaca bisa lebih dekat dengan penulis dan juga melihat karya-karyanya di akun Instagram
@Rguzty08 atau di WhatsApp 085852637044 karena penulis kini telah bergabung di keluarga
besar Komunitas Penikmat Puisi.
Juara 3
RINDU HARAPAN
Oleh: Aminati Juhriah
Bayangan masa laluku membuat sekat, menutupi akal pikir tak terungkap.
Hingga aku terperangkap pengap, terjerembap di ruang sembab, sebab khilaf.
Tempurung waktu menutupi maknanya larung, terkurung di ruang renung.
Di tipuan sepi merekayasa nurani terasa nikmat, saat malam pekat elok memikat laknat.
Jika hingar bingar tak mampu redam gundahku tiada arti memiliki rasa,
hatiku hampa ....
Aku yang tenggelam dalam resah gelisah luluh lelah
Lelahku berkejaran menggapai cerita fatamorgana di mimpiku.
Pekat malam tak sengaja mengingatkan, menumbuhkan gulma jiwa merengkuh ruas-ruas rindu bersikukuh.
Meretas cemas terhempas puas, mengundang gerimis memelas.
Sisi hati berbisik lirih ini tentang perasaan ... selebihnya berbisik ini tentang tipuan ....
Kini aku bertaburan harap dekap-Mu, dalam halai balai mencerna rindu.
Kekasih ... sisipilah buncahan nelangsaku dengan rahmat-Mu.
Leburkan kekalan laku menuntun jatuhkan embun di mataku, hingga menyentuh langit menguapkan isyarat kelemahanku.
Kusebut nama-Mu dalam senyap dan gelap, kukirim nawaitu nasuha lewat bayu menghempas huruf-huruf doa menggenangi danau kristal bercahaya pinta.
Selimuti cakrawala jiwa hingga terbelah merekah, menyingkap indah tabir keMahaan-Mu.
Lingkupi dengan cahaya agar kumampu melantunkan tamsil-tamsil kerinduan, tanpa pekat menyekap tafsiran jiwa di pelukan-Mu.
Pada gerimis di persinggahan jengah,
aku menunggu memetik buah hikmah dari pohon kesabaran.
Tangerang, 24 Januari 2020
Bionarasi: Aminati Juhriah lahir di Tangerang di bulan Agustus, seorang ibu rumah tangga biasa yang bermimpi luar biasa, dakwah lewat puisi dan dunia literasi.
Komentar
Posting Komentar