Kumpulan Puisi Roy Frans S

KOMUNITASPENIKMATPUISI.com - Kumpulan Puisi Roy Frans S:




Subuh ke Padang Panjang

Roy Frans S


Seperti merasa bermimpi

malam bagai kamar kosong

yang redup dengan kunang-kunang,

kasur dingin kesepian

sejak guling pulang ke Padang Panjang.


Jalan berliku seperti masalah

yang setia hadir

membawa kenang tanpa permisi:

Desa wisata Kubu Gadang

perempuan berida

penari piring suluh

seorang penyayang

kesepian, penuh ratap

di batas hidup meredup.


Bekas getir, pucat di bibir

tanda kekalutan menerpa

bibir yang berusaha merapal doa

- langkah yang terhenti,

jalanan mencabik sebagian tubuh

seperti cambuk haus darah

membaringkan di rerumputan yang pasrah

menerima tetesan warna merah.


Angin membawa embun

berusaha memadamkan panas

perseteruan motor dengan aspal.


Subuh ke Padang Panjang

awal malam-malam kesepian.

Bulan ini kau ikhtiarkan:

Selalu menemani kesendirian

hingga ribuan malam.


Bekasi, 09 Apr 2022



Jakarta Kota Menggapai Mimpi?

Roy Frans S


Kau tuntun langkah atau langkah mendesakmu

ke sebuah kota dengan sejuta nama

tempat mimpi-mimpi dapat terwujud

bermodal ambisi basi

mengubah bapet yang mulai karib.


Masihkah kau jeli memandang?

Menatap seperti menelanjangi

satu per satu tembok berkaca dengan setumpuk impian

menghampar di depan wajah desamu.


Kau terpaku dalam bisu saat kumpulan model muncul

berlenggak di sepanjang trotoar mengajak pikiranmu bergumul

dengan semburat warna dan wewangian melintas

mereplikasi ingin seperti mereka.


Beranjak menapaki jalan kehidupan

mengais remah-remah rezeki dari ibukota

bersaing dengan jutaan pencari kerja

demi menggapai mimpi yang tertambat di awan.


Langit Jakarta kusut pada mata nanar.

Kepapaan masih menjadi momok menghantui bila mimpi menjadi buyar.

Kota dengan berbagai kolaborasi menyemburkan asa penuh sensasi

tersirat harap ekonomi meningkat walau kadang melarat siap menjerat.


Bekasi, 24 Agus 2022


Puisi Telah Usai

Roy Frans S


Dari cinta aku menjelma

bait-bait kata menyelubungi tubuh

mengebiri semua cemas

saat kesunyian begitu tajam

membuat kelu lidah berucap.


Dua mahluk berpadu

merangkai puisi rindu syahdu

melafalkan kepada malam

merobek tabir jarak

diiringi larik-larik sesah, sepi bergelora.


Namun embun seperti sedang berkebun duka.

Bulir-bulir air jatuh di kelopak mata

cemas berenang di kedua netra.

Spasi dan koma menjadi momok

memisahkan kata-kata dari saling dekap.

 Sekerat hati terluka

saat titik menancap dalam.


Puisi menjadi lisut 

hanya membekas di lipatan otak

bergelayut setiap bait dalam kenang

hingga pori-pori tertutup rapat.


Bekasi, 24 Agus 2022


Tentang Penulis:


Nama saya Roy Frans S, nama panggilan Roy Dabut. Berdomisili di Bekasi. Berusia 42 tahun, memiliki seorang istri dan 3 putri. Saya adalah seorang ASN di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan sekarang bertugas di KPU Bea Cukai Tipe C Soekarno Hatta. Saat ini saya bergabung dalam CLiF (Customs Literacy Forum), Komunitas Sastra Kemenkeu, Kelas Puisi Bekasi (KPB), Competer Indonesia dan Satupena DKI Jakarta. Telah melahirkan buku puisi berjudul “Terpesona Cinta” tahun 2021 dan beberapa karya pernah dimuat dalam berbagai antologi puisi dan media elektronik. 

No HP/WA : 082166894040

Email : rdabut@gmail.com

IG : @dabutflo






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

Puisi-puisi Mohammad Iskandar,

Puisi-puisi Muhammad Sholeh